Jumat, 18 Juli 2014

Catatan Perjalanan: Pendakian Gunung Papandayan Part. I

Sekali lagi, menikmati kecantikan Indonesia dari Ketinggian

Papandayan landscape from parking area with superzoom mode,, cool, right?
Lagi-lagi latepost.. hffftt.. Maklum, profesi gue saat ini adalah sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tengah memperjuangkan kelulusannya sesegera mungkin demi membahagiakan Ibu dan Ayah. Jadi ya kerjaan gue tiap hari tuh kalo ga makan, tidur, bengong, ke lab, makan tidur, bengong,ke lab.. Kesian ya



Pendakian ke gunung Gede di waktu yang telah lalu ternyata menjadi gerbang awal bagi gue untuk mendaki gunung-gunung lainnya. Beberapa bulan setelah pendakian gunung Gede, gue berkesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo dengan gugusan Milky way nya yang luar biasa indahnya. Seminggu setelah kepulangan gue dari malang, ternyata semesta masih melimpahkan kasih sayangnya kepada gue untuk menikmati lelahnya pendakian ke Gunung Pangrango dan mengunjungi si cantik penuh misteri Mandalawangi. Ga berhenti sampai di situ, masih di bulan mei, ternyata gue diberi rezeki lebih yang akhirnya kesempatan ini gue ambil untuk melakukan Pendakian Ke Gunung Papandayan yang terkenal dengan landscape kerennya. Lempar toga eh.. belom punya deng

Jumat, 28 Mei 2014 pukul 00.30 WIB – Ciledug

Tim pendakian papandayan kali ini terdiri dari 7 orang. Ada gue, tia, farha, nina, neo, kharisma, dan satu lagi yang dirahasiakan identitasnya, sebut saja leon. Meeting point keberangkatan kita dirumah tia daerah Ciledug. Persiapan pendakian kali ini bener-bener melelahkan, terutama soal urusan tenda. Kita baru dapet tenda jumat sorenya setelah bersusah payah mencari ke sana kemari. Pokonya pusing deh ngurusin tenda waktu itu, ngedadak banget soalnya. jangan di tiru ya

Setelah berhasil mendapatkan tenda dan packing dikontrakan, gue langsung menuju rumah tia yang jauuuuuuhhhh nya dari ujung langit sampe bumi. Jam 9 malem akhirnya gue nyampe di rumah tia, dan disana ketemu sama nina sama farha. Neo langsung balik ke rumahnya buat ngambil mobil. Sekitar jam 12 malem, neo jemput kita lagi. Dari rumah tia, kita menuju ke rumah Kharisma buat jemput dia sama leon dulu. Tim sudah lengkap, akhirnya kita pun langsung menuju garut malam itu.

Sabtu, 29 Mei 2014 pukul 05.30 WIB – Pertigaan Cisurupan, Garut

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kita pun memasuki wilayah Garut. Diperjalanan mendekati daerah Cisurupan, kita pun disambut oleh pemandangan Gunung Cikuray lengkap dengan sunrisenya yang cantik. Sekitar pukul 05.30 WIB, kita pun tiba dipertigaan Cisurupan. Kita berhenti sebentar untuk menunaikan solat Subuh di masjid yang ga jauh dari sana sebelum melanjutkan perjalanan menuju Papandayan.

Cikuray with its beautiful sunrise
Dari pertigaan Cisurupan menuju Papandayan menghabiskan waktu sekitar kurang lebih satu jam dengan kondisi jalan yang luaaaar biasa. Awalnya sih masih bagus aspalnya, hingga akhirnya kita pun dihadapkan oleh jalanan yang berlubang di sana-sini. Lubangnya ga nanggung-nanggung. Berasa off road, kesian gue sama yang nyupir dan mobilnya. Entah siapa yang iseng bikin jalanannya jadi rusak kaya gitu, hujan meteor atau negara api mungkin?

Buat yang naik kendaraan umum, dapat menaiki mobil pick up dari pertigaan Cisurupan menuju Papandayan. Tarifnya sendiri sekitar Rp.15.000 s/d 20.000 per orang. Mahal ga segitu? Menurut gue sih harga segitu worth it lah dengan kondisi jalan yang silahkan dicobain sendiri gimana sensasinya. Atau mau berhemat, jalan kaki dari Cisurupan sampe papandayan juga bisaa.

Setelah melalui perjalanan yang mendebarkan, akhirnya kita tiba di area parkir Papandayan pukul 07.00 WIB. Simaksi pendakian Gunung Papandayan bisa langsung on the spot tanpa harus booking jauh-jauh hari terlebih dahulu.



area parkir

  
nina, nono, farha, menanti sarapan

 09.20 WIB, Start Awal Pendakian Papandayan

Setelah selesai bersih-bersih dan mengisi perut, kita pun segera melakukan pendakian.  Satu hal yang unik dari gunung Papandayan ini, di trek awal kita langsung menjumpai kawahnya yang masih aktif mengeluarkan kepulan asap putih dengan bau belerang yang menyengat. Jadi jangan lupa memakai masker ketika melewati trek ini. Jalurnya lumayan dengan disertai tanjakan-tanjakan yang tidak terlalu curam namun harus tetap hati-hati. Jangan lupa, siapkan kameramu. Landscapenya kerennn, berasa ada di negara mana gitu, padahal ini masih di Indonesia lohh.. Ga heran lah kalo papandayan di kasih julukan Swiss pan Java.

kharisma, neo, tia, nina, farha, sama gue (nono)


trek awal pendakian

landscapenya berasa lagi umroh

siap siap maskeerr
Setelah melalui jalan berbatu, kita pun melewati jalur yang sempit dan menurun hingga akhirnya kita sampai di trek aliran sungai kecil. Setelah menyebrangi aliran sungai tersebut, baru deh kita disuguhi sama trek yang menanjak dan lumayan bikin napas kembang kempis..

Dan emang dasar ya, gunung Papandayan ini baik banget. Selain trek yang banyak bonusnya, kita pun ga henti-hentinya disuguhi Landscape yang cantik.  Yang namanya naik gunung emang tetep capek sih, tapi pendakian gunung Papandayan tuh capenya ga bikin gue sampe nangis-nangis minta pulang.

11.00 WIB, Pos II Camping Wajib Lapor

Setelah menempuh lebih kurang 1.5 jam perjalanan, akhirnya kita pun tiba di pos II. Di pos ini, para pendaki wajib melapor terlebih dahulu, jadi jangan lupa siapkan simaksimu ..

salah satu barang bawaan wajib, "tongsis"

11.30 WIB, Pondok Seladah

Dari Pos II menuju area camping ground pondok seladah membutuhkan waktu tempuh lebih kurang 15 -20 menit. Jalurnya sempit dan menanjak, jadi harus ganti-gantian atau melipir sedikit jalannya kalau ada pendaki lain dari arah berlawanan. Sekitar pukul 11.30 WIB kita pun sampai di pondok seladah.

Here we are, Pondok Seladah, sedep banget viewnya
seperti biasa, signature pose ala gue



Sesampainya di pondok seladah, kita pun segera nyari tempat yang pewe buat ngediriin tenda. Di sini rombongan kita bagi jadi dua tim, tim 1 buat masak  tim 1nya lagi ngediriin tenda. Mau tau menu makan siang kita apa? Fusili + Margarin roasted bread. Gayanya udah kaya minta dijitak

tim tenda

tim masak
this is it,, our lunch ala chef tia and kharisma

Ternyata ada kejutan lain di papandayan. Lo ga harus susah-susah nyari semak-semak buat pee-pee ataupun poo-pee. Sekarang udah ada wc umum yang terletak di pondok seladah. Bersih lagi. Denger-denger sih wc ini baru di bangun seminggu yang lalu sebelum gue tiba di pondok seladah. Oia, waktu itu juga di pondok seladah lagi di bangun sebuah warung bamboo. Pantes diperjalanan ketemu sama bapa-bapa bawa2 bambu naik motor sampe pondok seladah. Eh.. Tunggu dulu tunggu dulu, gue bilang motor kan tadi? Iya beneran motor.. Gue juga heran, seumur-umur naik gunung, gue baru nemu ada orang naik motor di gunung.. Motor trail si, bukan matic loh.. 
-_-

memasuki kawasan hutan entah berantah

Setelah selesai beristirahat, solat,dan makan, kita pun memutuskan untuk summit saat itu. Kita Cuma bawa perbekalan air minum, makanan ringan, headlamp, sama ponco, sisanya kita tinggal di tenda. Untuk menuju puncak, kita harus melalui rawa berlumpur terlebih dahulu. Umumnya jalur ke puncak melewati hutan mati terlebih dahulu, tapi waktu itu kita ambil jalur yang melewati hutan-hutan, tepat di sebelah kanan padang edelweiss tadi. Sebenernya sih ini keputusan yang salah menurut gue, karena kalau lewat jalur ini petunjuk arahnya ga jelas, patokan kita pita-pita yang ada di pohon, tapi pitanya jarang jarang banget. Udah gitu jalurnya curam, tanahnya rapuh pula. Kondisi makin buruk karena sore itu tiba-tiba hujan turun. Sampe akhirnya di tengah perjalanan, kita nyerah karna mentok ga nemu jalur lagi, yang ada malah tebing tinggi. Akhirnya kita memutuskan untuk balik ke camp waktu itu. Dan ternyata, kita menemui kesulitan juga buat nyari jalan balik. Tapi akhirnya kita nemu jalur ke rawa-rawa tadi. Thanks God -.-“

Gagal muncak, di tambah ujan deres sore itu akhirnya kita memutuskan untuk mendekam aja di tenda sambil masak-masak air panas untuk menghangatkan badan.

Malemnya hujan berhenti. Cuaca dingin, di tambah tanah lapangan yang masih basah gara-gara hujan tadi sore, bikin kita mager beranjak dari tenda, padahaal langit malem itu bagus banget, bintangnya banyaak bertaburan di atas langit sana, mengingatkan gue sama gugusan milky way yang ada dibromo waktu itu.

delegasi koalisi teris dan nerox at pondok seladah







4 komentar:

  1. heh anak alay.. bersambung? cinta fitrii kaliii.. hahaha :P

    tuh gua udh comment. seneng kan seneng dong?? huahahaha :P :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue kirain siapa yang komen... eh elu ternyataa.. -_- haha

      iya lah,, biar banyak2in postingan gue.. wkwk

      Hapus
  2. Seruu dehh ngikutin ceritanya Retno. Aku harap suatu kali, aku ada di postingan ini dan menjadi salah satu orang yg ikut serta. Pendakian selanjutnya mungkin... hehehhe. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, ada ka mj ternyata.. ayo kaa gabung kalo ada pendakian bareng lagi..:D:D

      Hapus