Senin, 10 November 2014

Curhatan Pendakian Gunung Ciremai Chapter Akhir - Perjalanan Menuju Tanah Tertinggi Bumi Priangan

"Climb Mountains Not So the World Can See You
But So You Can See The World"

Hujan deras di hari pertama kita ngecamp bener-bener bikin kewalahan rombongan gue yang ada di tenda sebelah *di tenda gue sih nyenyak-nyenyak aja sebenernya, huehehe. Pas tidur, di tengah derasnya hujan, gue sempat mendengar suara debuman yang lumayan kenceng, tapi karna mata sudah terlalu lelah yaa gue pun lanjut tidur. Lewat tengah malam, masih di suasana hujan deras, sayup-sayup gue mendengar suara yang berasal dari luar tenda gue. Entah suara siapa, yang jelas suaranya manggil-manggil orang yang ada di dalem tenda gue gitu. Karna kita lagi lelap-lelapnya tidur waktu itu, awalnya ga ada yang nanggepin. Tapi tu suara masih kekeuh, manggil-manggil kita “yang di dalem ada yang bawa jas ujan gaa, pinjem dong kita kebanjiran ni di tenda sebelah”. Tau-taunya itu suaranya punya penghuni tenda sebelah. Akhirnya gue sama devy pun ke bangun nyariin jas ujan. Ternyata gara-gara hujan yang teramat deras, tenda sebelah kebanjiran sob. Banjirnya parah, airnya sampe bisa diciduk di dalem tenda katanya, sampe-sampe sendal gunung temen gue yang baru dibeli anyut ga ketemu, sebelah doang lagi. Ckck.. kesian ya mereka.
Akibat kondisi tenda yang tak layak huni, carrier-carrier mereka pun ditampung di vestibule tenda yang gue tempatin. Udah gitu mereka ngedrop dua orang pengungsi kedinginan kelas berat, mandella sama ikhwan. Bayangkan, kita pun harus melanjutkan malam dengan kondisi tenda yang idealnya menampung 4-5 orang, tapi karna darurat tendanya jadi diisi sama 7 orang, dimana 2 orangnya merupakan kelas berat plus 9 carrier. Luar biasa bukan?