Selasa, 10 Juni 2014

Catatan Perjalanan Malang-Prolog : “Jakarta-Malang, Kereta Cinta itu Bernama Matarmaja”

Minggu 27 April 2014. Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat jendala. Kesibukan pun mulai terlihat di sebuah rumah di bilangan Kota Bekasi. Di sebuah kamar yang tak begitu luas seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan Kimia salah satu Universitas Negeri di Jakarta yang biasa di panggil Nono, tengah sibuk memeriksa ulang perlengkapan yang ada di tas carrier 42 L yang baru saja dibelinya. Setelah yakin kalau tak ada yang kurang dari barang bawaannya, ia pun bergegas mengambil handuk lalu mandi. Kali ini, ia menambah waktu mandinya sedikit lebih lama dari biasanya, pikirnya ia baru bisa mandi lagi esok siang karena selama lebih kurang 18 jam ke depan ia akan menghabiskan waktunya di dalam kereta “cinta” katanya.
Kereta cinta? Buat kalian yang suka backpackeran ke Malang sepertinya tidak asing dengan kereta yang biasa di sebut dengan kereta cinta ini, Matarmaja.. Hmm.. Entah kenapa disebut sebagai kereta cinta? Mungkin banyak cinta yang bersemi kala menaiki kereta ini, who knows? 

Perjalanan dari Bekasi menuju Stasiun Senen dengan menaiki sepeda motor (sebagai penumpang) sambil menggemblok carrier 42+5 L yang diisi penuh itu rasanya, eughhh cukup membuat pundak panas. Untungnya jalanan kala itu terbilang lancar, hari libur soalnya. Hiruk pikuk di stasiun Senen bisa dibilang tak pernah sepi, seperti yang terlihat di hari itu. Akupun langsung menghampiri rombonganku, Mahasiswa/I Jurusan Kimia UNJ angkatan 2010. Ya, selama 3 hari ke depan, kami akan menghabiskan waktu di Malang dalam rangka Kuliah Kerja Lingkungan (KKL).

Rombongan KKL Kimia UNJ kurang lebih berjumlah 70 orang menempati gerbong 8 yang berada di urutan paling belakang kereta matarmaja. Sebenarnya masih bingung kenapa kereta ini di sebut kereta cinta. Secara garis besar, Matarmaja hanyalah kereta penumpang ekonomi-ac dengan harga tiket yang bisa dibilang murah. Fasilitasnya pun ala kadarnya, ada uang ada barang lah istilahnya. Bangku penumpangnya saling behadapan dengan sandaran punggung tegak 90 derajat. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya menghabiskan waktu selama 18 jam perjalanan dengan kereta ini. Hehe. Trus dimana “cinta”nya? Ada yang bisa bantu jawab? 



with TERIS :* di stasiun senen

Perlahan kereta pun mulai meninggalkan stasiun Senen. Miris. Tak jauh dari stasiun Senen, pemandangan Jakarta di luar jendela kereta sungguh memprihantinkan, begitu kumuh. Gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah yang hilir mudik di jalan-jalan besar kota Jakarta begitu kontras dengan pemandangan yang terlihat kala itu. Sungguh sebuah topeng yang begitu sempurna menutupi kejelekan yang ada dibaliknya. Memasuki wilayah karawang, pemandangan berganti dari “sampah dan rumah kardus” menjadi persawahan hijau yang luas terhampar. Sepanjang perjalan, aktivitas di dalam gerbong cukup ramai. Ada yang nonton bareng, ada yang ngerumpi, ada yang main games, dan lain sebagainya. Lumayan untuk mengusir kepenantan. Sesampainya di stasiun Cirebon, kereta berhenti cukup lama. Bosan terus berada di dalam kereta, aku dan beberapa orang teman memutuskan turun dari kereta untuk sekedar meregangkan otot-otot kaki.

Kegelapan malam mulai menguasai langit. Tak ada lagi yang bisa terlihat di jendala selain pekatnya malam, serta lampu-lampu ala kadarnya di sepanjang perjalanan. Kelelahan pun mulai mendera menyebabkan sebagian besar penumpang di gerbong itu, yang hampir seluruhnya merupakan rombongan KKL, terlelap dalam tidurnya. 

Malam pun berganti pagi. Di luar sana, hamparan sawah yang hijau, birunya langit, serta deretan pegunungan menyapa dari balik jendela. Cantik. Tak puas hanya memandang dari kursi penumpang, aku dan beberapa orang teman bergegas menuju pintu yang terletak di dekat toilet. Sesekali aku mengabadikan pemandangan tersebut lewat kamera yang selalu ku bawa ketika bepergian. Cantik, sayang jika terlewatkan begitu saja.



cantik kaann? Subhanallah :D


Senin, 28 April 2014. 07.00 – Stasiun Malang 




bersihnyaaa


Sekitar pukul 07.00 wib kereta pun berhenti di stasiun pemberhentian terakhir, yakni stasiun Malang yang merupakan tujuan rombongan KKL ini. Banyak kesan selama menghabiskan perjalanan di kereta Matarmaja ini. Ketika kaki pertama kali menjejak di stasiun Malang, udara segar pun menerpa wajah dan memasuki rongga dada. Bersih, itulah kesan pertama ketika tiba di stasiun ini. Stasiun Malang terlihat jauh lebih bersih dan rapi dibandingkan dengan Stasiun Senen yang kebersihannya hanya ala kadarnya. Rombongan KKL kemudian menuju Musholla yang ada di dalam stasiun sekedar untuk bersih-bersih dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Ya, dari sini perjalanan masih panjang untuk tiga hari ke depan. Kenangan apa saja yang terukir selama di Malang? 

Bersambung di Malang on Trip selanjutnya..:)

*ps : entah kenapa, gaya bahasa gue berubah pas nulis catper malang ini, lagi pengen, hhe.. aneh ya? Biarlah.. Lalu akupun berlalu terhempas angin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar