Sabtu, 27 Juni 2015

Semeru Bagian ke-1, Harapan yang Terkabulkan

Cerita pendakian ke semeru ini menjadi pilihan pertama untuk menghidupkan kembali blog gue yang telah lama mati suri ini. Selamat membaca. :D

Semeru, Harapan yang Terkabulkan


Ranupani berselimut kabut, Photo by @aristabayu

Gue lupa-lupa inget awal mula tercetusnya perjalanan ini kaya apa, yang jelas di tengah kemagabutan gue menunggu wisuda, tiba-tiba datang sebuah tawaran buat ke Semeru dan tau-tau gue pun udah dibaiat begitu aja di sebuah grup whatsapp dengan nama “Semeru 2015”, kalo ga salah. Biasalah gue, kalo udah diajak jalan-jalan apalagi ke gunung, langsung excited banget, apalagi tawarannya ke semeru…
Akhirnya, hampir setiap hari gue gentayangin aldi sama ojay dengan pertanyaan, "serius mau ke semeru? beneran? kapan? ajak gue pokonya ya ya ya, Lo pada ikut kan? ikut yaa, gue nunggu kabar dari lo pada pokonya, jadi ga sih?" dan bla bla bla lain sebagainya. Kalo udah kaya gini gue bisa lebih cerewet daripada wartawan gosip dengan tekad sekeras baja dengan satu tujuan "pokonya, mau gimanapun caranya gue harus wajib ikut ke semeru", hahaa..

Rombongan yang fix ikut pendakian semeru ini jumlahnya 16 orang, ditambah 3 orang lagi dari tumpang total 19 orang. Ada gue, farha, nina, aldi, eko, deny, ojay, ali, bayu, ikhwan, Bang fredi, huda, abu, faisal, kharisma, ka yari, Bang Alex, dan duanya lagi lupa. Ramee yaa.. Mengurus pendakian ke semeru bukan hal yang gampang ternyata, kecuali pake jasa trip organizer. Apalagi waktu itu lagi libur panjang, dan jalur pendakian ke semeru baru banget di buka, alhasil kuota buat simaksi dan tiket kereta pun langsung abis dalam sekejap, baaahhh. Kita yang rencana awalnya berangkat tanggal 13 Mei, akhirnya harus mundur 1 hari gara-gara keabisan tiket kereta.

Selasa 12-05-2015 13.30 WIB, St. Senen
 Sebelum ke stasiun senen, gue ke kampus dulu janjian sama aldi, deny, eko, dan ojay buat jalan bareng ke stasiunnya. Sampai di sana, kita ketemu sama mas-mas berambut panjang yang lagi duduk sendirian, dan ternyata dia adalah abu, kenalan gue pas pendakian ciremai tahun lalu. Satu persatu rombongan gue pun pada dateng, ada huda sama icuan yang pernah nanjak bareng ke pangrango dulu, ada bang fredi kenalan baru, di susul farhati yang kemudian terkenal dengan sebutan hayati, trus ada bayu kenalan baru sama ali yang makin item, lalu ada kharisma anak distro, ka yari kenalan baru, sama nina. Sebenernya masih ada satu lagi, faisal kenalan baru juga, tapi karna di ga dateng-dateng akhirnya kita boarding duluan dan baru ketemu di dalem kereta.

Siap-siap boarding at St. Senen, Photo by @aristabayu

Suasana di stasiun senen hari itu beda banget dari hari biasanya, rameee banget sama mas-mas mba-mba bercarrier, apalagi pas di dalem gerbong, carrier semua isinya, sampe-sampe harus rela naro carrier di bawah bangku saking penuhnya dan ga kebagian tempat buat naro di kabin.. ini pada mau ke semeru semua apa ya, engga kan? *batin gue

Photo by +Deny Kuswanto 
Ga lama setelah kereta berangkat, tiba-tiba gue dapet sms yang mengabarkan kalo gue di minta untuk menghadiri tes medical check up tanggal 13 Mei sebagai tahap lanjutan dari tes lamaran kerja gue di PT. xxxxxxx.. Whaaatt! Gimana caranya coba, sedangkan esok hari gue akan berada di provinsi yang berbeda. Seketika terjadi pergejolakan didalam hati dan pikiran gue, "Apakah gue harus loncat dari kereta saat itu juga, meninggalkan semua yang telah gue rencanakan sekian lama ini. Ataukah gue harus merelakannya begitu saja, melepasakan begitu saja? Oh Tuhan...." *gue pun ditendang dari kereta. End 

Saat itu gue beneran dilema ga tau mesti gimana.. Tiba-tiba hape gue berdering, dan ternyata yang nelpon HRD PT. tersebut. Gue pun coba ngelobi dan alhamdulillah, ternyata bisa di reschedule jadi hari senin tanggal 18 Mei nanti.. Lalu gue pun bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang..:D

Gerbong para pendaki, photo by +Deny Kuswanto
Setelah melalui masa-masa dilema tadi, ga banyak yang bisa dilakuin selama di kereta, paling Cuma gosi-gosip dikit lah bareng farha sama nina duo sumber informan terupdate dari geng nerox, bobo cantik, hingga akhirnya 16 jam berlalu dan kereta kita pun tiba di.. Malang..

Rabu 13-05-2015 07.45 WIB, St. Malang – Tumpang
    Perjalanan pun dilanjutkan dari stasiun Malang menuju rumah budenya Aldi di Tumpang dengan menggunakan angkot carteran. Perjalanan dari Malang menuju Tumpang menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 1 jam. Beruntungnya punya kenalan di Tumpang, ada tempat bernaung, jadi sampe sana kita bisa istirahat dulu, bersih-bersih, numpang makan, nitip barang-barang yang ga perlu di bawa dll. Ga keburu-buru dan ga luntang-lantung.

Di sana kita mampir ke warung pecel Bu siapa gitu yang kayanya itu tuh warung pecel paling nge hits di daerah sana, rame terus soalnya. Gue mesen Nasi rawon, bakwan jagung sama es jeruk dan kalian tau berapa rupiah yang harus gue keluarkan untuk mendapatkan semua itu? 11 ribu doang masa,  murah kaan.. coba kalau di jakarta atoaubekasi, mana bisa berharap banyak lah dengan uang segitu.


Biasa aja keleus mba mukanya.. haha


Setelah selesai melakukan ritual peremajaan perut, kita pun repacking hingga tiba-tiba hujan pun turun begitu derasnya. Ga lama, kita pun memutuskan untuk nerobos aja ke ranupani daripada kelamaan nungguin hujan yang ga tau kapan berhentinya. Waktu itu gue ga ikut naik jeep bareng yang lain tapi numpang motornya bang Alex, rombongan kita juga ya. Dia orang tumpang asli yang juga merangkap sebagai guide kita di pendakian itu. Pokonya segala keperluan akomodasi kita dari tumpang-ranupani-tumpang plus simaksi ya diurus sama bang alex ini. 
Perjalanan ke ranupani dengan menggunankan motor lumayan, seru juga. Apalagi sepanjang perjalanan dari tumpang ke ranupani tuh disuguhin sama landscape yang indah banget, paling amazed waktu ngeleawatin bukit teletubisnya bromoo… sayang gue ga bisa foto-foto karena kamera gue, gue simpen di carrier. Faaynn -_-

Sekitar pukul 13.00 WIB kita pun sampe di Ranupani. Pas nyampe Ranupani tuh gue mesmerized banget lah, ga kebayang kalo akhirnya gue bisa ada di sini.. haha *drama.

Alhamdulillah di sini cerah, ga kaya di Tumpang..


Ranupani

Sebelum melakukan pendakian, kita di briefing dulu sama temen-temen ranger di sana, waktu itu gue di briefing sama siapa ya, mas-mas gondrong salah satu koordinator trashbag community daerah mana gitu, ah sudahlah lupakan.. Intinya sih untuk peraturan pendakian semeru ini diperketat, mengingat kondisi ekosistem di semeru yang mulai terancam diantaranya ya ancaman sampah yang menumpuk berakibat pada perubahan kualitas air di ranukumbolo sehingga pH-nya semakin membasa gitu lah, udah kurang bagus lagi kalo buat di minum, selain itu juga banyaknya kasus pendaki yang meninggal dunia akibat kurang safety nya perlengkapan yang dibawa atau akibat kecerobohan dari pendakinya itu sendiri membuat pihak pengelola di sana mengambil tindakan tegas diantaranya pemeriksaan perlengkapan pendaki dimana para pendaki dilarang membawa benda tajam, spidol untuk mencegah vandalism, serta pendaki wajib menggunakan sepatu dll, pendaki juga dilarang keras meceburkan sebagian atau seluruh anggota badannya ke ranukumbolo, jika kedapatan melakukan pelanggaran, pihak sana akan memblacklist orang tersebut seumur hidup, begitulah lebih kurangnya.. *kemudian gue pun engap.
With Nina, sobat gunung nan alay

Wefie dulu lah sebelum jalan, mumpung muka masih seger sambil menunggu anak-anak kloter dua yang tak kunjung datang

Selesai briefing dan makan baso malang, sekitar pukul 18.00 WIB, rombongan kita pun bergegas menuju ke jalur pendakian setelah sebelumnya melakukan doa bersama. Target kita waktu itu bermalam di ranukumbolo lalu melanjutkan pendakian keesokan harinya.. Sebelum pendakian, gue udah pesen-pesen ke eko sama ojay kalo apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin gue sendiri, trus ke farha sama nina gue jadi bilang, apapun yang terjadi, kalo cape bilang-bilang. Gue lelah lo lelah, lo lelah gue juga lelah.. hahaa 
Tapi serius, gue degdegan loh waktu itu.. Semoga semesta mendukung *ngomong sendiri dalem hati.

Bismillah.. Here we go~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar